Senin, Agustus 08, 2016

Isu Panas Seputar Bongkar Pasang Kabinet, Ahok, Eksekusi Mati, Hingga Jessica

Media massa di tanah air, dalam beberapa pekan terakhir ini mengekspos beberapa isu panas. Sajian media (dominan Televisi dan Suratkabar Cetak serta media Online), kemudian menjadi agenda perbincangan publik. Banyak yang tidak mengacuhkan, tetapi sebaliknya tidak sedikit pula yang kemudian merangsang sejumlah perdebatan hingga mengundang aksi nyata.  


Presiden Joko Widodo (foto: Ist)
Dalam dua pekan ini, media massa mengangkat sejumlah isu-isu panas. Mulai dari reshuffle (bongkar pasang) kabinet Jokowi, yang menyisakan sejumlah pertanyaan di masyarakat, lalu isu Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang akan berlangsung tahun depan, terkait siapa lawan petahana Ahok, yang dianggap sepadan karena Ahok terlalu populer di kalangan pemilih warga Jakarta.

Isu lain terkait pelaksanaan eksekusi terhadap 4 dari 14 terpidana mati, kasus Narkoba, pada 26 Juli 2016 di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Kasusnya, tidak berhenti di situ, tetapi berbuntut panjang,  terkait pengakuan (alm) Freddy Budiman tentang keterlibatan aparat dalam bisnis haramnya itu. Isu menarik lainnya, adalah kasus kriminal pembunuhan Mirna Salihin yang diduga dilakukan oleh Jessica Kumala Wongso, temannya sendiri.


Sabtu, Agustus 06, 2016

Ulah Terpidana Mati Freddy Budiman

Pengakuan model majalah pria dewasa Vanny Rossyane mengangkat lagi nama gembong narkoba Freddy Budiman. Pria 37 tahun itu disebut Vanny mendapat fasilitas khusus selama menjalani pidana 18 tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II Cipinang, karena punya uang banyak. Ia masih bisa pesta sabu dan berhubungan intim dengan teman wanitanya seminggu tiga kali di ruangan khusus yang ada di lapas.

Freddy sebetulnya bukan kali ini saja berurusan dengan hukum, ia sudah sering keluar masuk penjara karena
Freddy Budiman pada
persidangan PK
kasus narkoba. Catatan yang dikumpulkan VIVAnews, tahun 2009 Freddy pernah tertangkap karena memiliki 500 gram sabu-sabu. Saat itu, dia divonis 3 tahun dan 4 bulan.


Freddy kembali berurusan dengan aparat pada 2011. Saat itu, dia kedapatan memiliki ratusan gram sabu dan bahan pembuat inex. Terakhir, Freddy diketahui menjadi terpidana 18 tahun karena kasus narkoba di Sumatera dan menjalani masa tahanannya di LP Cipinang.



Kesaksian Bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan

CERITA BUSUK DARI SEORANG BANDIT 

Haris Azhar, Koordinator Komisi
untuk Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan (KontraS)
Cerita yang disusun ini adalah fakta peristiwa. Bertujuan untuk membuktikan bahwa pelaksanaan hukuman mati yang didukung dengan keterlibatan instansi-instansi negara dalam bisnis obat-obat terlarang adalah sesuatu yang benar, namun tidak pernah terusut. Negara bersalah apabila eksekusi mati kepada 14 orang malam ini dan selanjutnya tetap dilakukan, tanpa ada sistem koreksi total di dalam tubuh badan-badan keamanan di Indonesia. Silakan sebarkan!!
***
Cerita Busuk
 dari seorang Bandit:
Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)
Ditengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukin karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secra komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.


Minggu, Juli 31, 2016

Indonesia Gawat Narkoba VS Dilemma Aparatur Intelijen

Pemerintah beserta seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dewasa ini, tengah menghadapi ancaman dan tantangan yang sangat berat terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Presiden RI Joko Widodo, menyampaikan kekhawatirannya pada Sidang Kabinet Akhir Tahun 2014 dengan menyatakan “Indonesia Darurat Narkoba”.
Barang Bukti Narkoba yang Berhasil Disita Beserta Para
Tersangka Pelaku Penyelundupan (foto: tempo)
Presiden kemudian memerintahkan kepada Seluruh Jajaran pemerintahan, khususnya Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) sebagai Agen Pelaksana (Executing Agency) dan/atau Motor Penggerak (Leading Sector) dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia, untuk melakukan Penanggulangan (Tanggap Darurat) sebagai akibat dari Darurat Narkoba.
Ancaman dari tindakan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia, memang sudah berada pada tingkat yang memperihatinkan. Tingkat ancamannya sudah bukan lagi pada tingkat ancaman Minor, Moderat, ataupun Serius, tetapi sudah pada tingkat ancaman yang tertinggi, yaitu ancaman Kritis
Barang Bukti Narkoba, Siap Dimusnahkan
Hal ini terlihat, tidak hanya dari luas area persebaran kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang terjadi hampir di seluruh wilayah NKRI, tetapi juga dari segi jumlah (kuantitas) barang bukti narkotika yang berhasil disita (dari berbagai jenis narkotika), dari tahun ke tahun secara kuantitas mengalami peningkatan secara signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian, Data, dan Informasi (PUSLITDATIN) Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan (PUSLITKES) Universitas Indonesia (UI), pada Tahun 2014 tentang “Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia”, diketahui bahwa angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia telah mencapai 2,18% atau sekitar 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir (Current Users) pada kelompok usia 10 – 59 tahun.


Empat Dari 14 Gembong Narkoba, Akhirnya Di Eksekusi

EKSEKUSI-- Empat dari 14 Terpidana Mati, yang lebih dulu
dihadapkan ke regu tembak, untuk dieksekusi, pada Jumat
dini hari, 29 Juli 2016 di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah

Kembali mata dunia melirik ke Indonesia, setelah HM. Prasetyo, Jaksa Agung Republik Indonesia memutuskan pelaksanaan eksekusi hukuman mati kepada empat (4) dari 14 terpidana mati, yang dinilai telah berkekuatan hukum tetap.

Eksekusi kepada terpidana mati ini merupakan seri ke-3 dari rangkaian eksekusi sebelumnya, terkait kasus pelanggaran, penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di Indonesia. 


Proses eksekusi berlangsung di kawasan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Jumat dinihari, 29 Juli 2016, tanpa menimbulkan kegaduhan, sebagaimana eksekusi sebelumnya yang melibatkan Warga Negara Australia. 

Siapa saja yang kali ini yang lebih dulu mendapat giliran? Ke-4 orang yang lebih dulu mendapatkan untuk dihadapkan ke depan regu tembak ini adalah gembong narkoba yang masuk daftar eksekusi.

Empat terpidana mati itu adalah Fredi Budiman, Seck Osmone, Michael Titus, serta Humprey Ejike. 


Senin, Juli 11, 2016

Kenikmatan Berbagi di Hari Raya Idul Fitri 1437 H


Sebuah kegiatan terbesar bangsa Indonesia, yang tidak masuk ke dalam kalender resmi adalah: Hari Mudik Nasional. 

Together We Strong
Hari mudik ini rentangnya cukup panjang, bisa seminggu bahkan dua minggu, yaitu Hari Minus 7 hingga Hari Plus 7, yang puncaknya tahun ini jatuh pada tanggal 6 Juli 2016 atau bertepatan dengan 1 Syawal 1437 H dalam kalender Islam.

Bangsa Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, merayakan Idul Fitri atau hari kemenangan, setelah menahan diri selama sebulan penuh. Inilah saatnya, kembali kepada keadaan sebagaimana ketika seseorang dilahirkan laksana bayi yang terlahir suci, bersih tanpa dosa (fitrah). Dan hari itu, sekaligus menandai berakhirnya bulan Ramadhan.

Kenikmatan dan kegembiraan ini, sejatinya, terasa belum lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta, termasuk yang utama adalah anggota keluarga, kedua orang tua, sanak saudara dan kaum kerabat.

Kerinduan dan berbagi suka duka, adalah kebutuhan batin dan awal keceriaan. Dan inilah pula magnet yang menyedot jutaan orang dari kota-kota besar di Indonesia untuk melakukan 'perjalanan' setahun sekali pulang ke kampung halaman masing-masing.

Selasa, Maret 29, 2016

Kasus CIS RISI PLN (Behind The Story)

Dua mahasiswa yang terpaut usia berbeda, berkesempatan mengenyam pendidikan di tempat terbaik di Indonesia. Kemudian melanjutkan pendidikan ke universitas bergengsi di luar negeri. Dengan penuh idealisme, setamat kuliah, mereka pun pulang ke tanah air untuk berkarya bagi bangsanya. Sayangnya, KPK kemudian menghentikan karier dua anak bangsa berprestasi ini di tengah jalan. Apa yang terjadi?
(foto: Antara)

Dalam rentang waktu yang berbeda, keduanya pun pulang. Ir. Eddie Widiono Suwondo, MSc. MM, jebolan Teknik Elektro ITB (1976) dan University of London (1989) itu, kemudian berkarier di perusahaan listrik negara. Dari semula pegawai biasa, kariernya melesat dengan meraih berbagai posisi penting di PLN, hingga akhirnya menjabat Direktur Utama PT. PLN (2001-2008).

Sementara, DR. Gani Abdul Gani, MSc.,  lulusan Teknik Elektro Politeknik ITB (1986), Telekomunikasi Huddersfield University, England (1989) dan Loughborough University of Technology, England, bidang Telekomunikasi Digital (1990) serta Manajemen Bisnis bidang Keuangan, Fakultas Ekonomi, Unpad Bandung (2009) itu, mengabdi sebagai dosen di Politeknik lalu mengelola bisnis trainning dan bersama rekan satu almamaternya mendirikan PT. Netway Utama, yang bergerak di bidang Teknologi Informasi.

Trainning bidang IT yang memudahkan manajemen perkantoran menangani pelanggan berskala besar, ketika itu  boleh dibilang masih baru. Maka, klien peserta training kebanyakan berasal dari kalangan karyawan BUMN. Seperti Pertamina, Perbankan, PDAM, termasuk PLN. 

Seorang peserta training dari PLN bercerita tentang kondisi runyam perusahaannya. Dan mencari solusi dari sisi teknologi dan manajemenIT. Dan ia pun mengusulkan pimpinan trainning itu untuk presentasi di hadapan Direksi.


Selasa, Maret 15, 2016

Syukur

Seorang ibu cantik berpakaian mewah datang ke psikiater untuk konsultasi. Ia merasa seluruh hidupnya kosong tak bermakna.

Psikiater itu memanggil seorang perempuan tua, salah seorang petugas di kantor.
“Saya minta Ani utk menceritakan bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Yang harus Ibu lakukan hanya mendengarkan saja”

Ani duduk di kursi dan mulai  bercerita, “Suami saya meninggal karena kanker. Tiga bulan kemudian putra tunggal saya meninggal ditabrak truk. Saya tak punya siapa pun. Tak ada yg tertinggal. Saya tak bisa tidur, tak bisa makan, tak bisa senyum. Saya bahkan berpikir mau bunuh diri. 

Lalu suatu malam, ketika pulang kerja, seekor kucing mengikuti saya. Karena di luar dingin, saya membiarkan anak kucing itu masuk ke dalam rumah. Saya memberinya susu, yang langsung habis diminum. Anak kucing itu mengeong dan mengusapkan badannya ke kaki saya. Untuk pertama kalinya dalam bulan itu, saya bisa tersenyum.

Sabtu, Maret 05, 2016

PolitiKing

“Begini ya…, sampeyan maju saja, nanti semuanya kita atur!”
“Lha, saya nggak ada duit?”
“Sudah, beres. Ikuti saja arahan kita!”
“ Siaaap!”
“Pokoke, gampanglah… semuanya sudah beres, sudah kita atur ya!”

Itulah sepenggal dialog, tepatnya sebuah kesepakatan  dua begundal di sebuah hotel berbintang sebuah  kota kecil, di Jawa Timur, menjelang  Pilkada serentak tanggal 9 Desember 2015 di Indonesia.

Maka pada hari dan jadwal yang ditentukan, kedua pasang calon (paslon) itu pun maju, mendaftarkan diri sesuai tatacara dan prosedur yang telah ditentukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Senin, Februari 29, 2016

Pedang Damocles, Kekuasaaan Bisa Membunuhmu!

Suatu ketika hiduplah seorang raja bernama Dionysius yang memerintah di Syracuse, kota terkaya di Sisilia. Ia tinggal di istana megah yang dipenuhi oleh benda-benda yang indah dan mahal, dan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang siap melakukan apa pun perintahnya.

Karena kekayaan dan kekuasaannya, tak heran bila banyak orang di Syracuse yang iri pada
Raja Dionysius
kejayaannya. Salah satunya adalah Damocles, sahabat karib Dionysius, yang selalu berkata, "Wah, kau sungguh beruntung. Kau memiliki apa saja yang kau inginkan. Tentunya, kau adalah orang yang palng berbahagia di dunia ini."


Hingga suatu hari Dionysius merasa gerah dengan ucapan-ucapan Damocles dan berkata, "Kemarilah, sobatku, Damocles. Benarkah kau pikir aku ini manusia paling berbahagia dibanding orang lain?"

"Ya, tentu saja," jawab Damocles. "Lihatlah, betapa hebat kekayaan yang kau miliki dan kekuasaan yang ada dalam genggamanmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi di dunia ini. Adakah hidup yang lebih baik dari kehidupanmu?"

"Barangkali, kau bersedia untuk bertukar tempat denganku?" kata Dionysius.