Senin, September 03, 2012

Realitas Media Yang Menipu

Kesan Seminggu Menonton TV
Kita adalah pemegang kendali atas apa yang ingin dilihat. Anda berhak mendapatkan tayangan yang patut, program yang layak untuk ditonton dan didengar. Jangan biarkan pikiran, badan dan jiwa Anda sepenuhnya 'didikte' oleh selera media.  Terbius oleh tayangan televisi, bacaan koran-koran kuning, yang (sebagian besar) hanya mengeksploitir instink rendah manusia. 

Jadilah pemirsa yang cerdas dalam menonton televisi dan kritis membaca suratkabar.  Sebab liputan media massa, ibarat sepotong cermin yang dipungut dari ribuan pecahan yang masih berserakan dari sebuah mosaik besar yang disebut realitas!    

kerumunan pers ketika meliput
suatu peristiwa [portaltiga.com]
Dalam sepekan terakhir ini, media massa nasional yang (mayoritas) terbit dan bermarkas di Jakarta, seakan mendapatkan 'berita besar'. Para pembaca koran, pemirsa televisi dan pendengar radio-radio, yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, menjadi tahu (well informed)

Bahwa di Ibukota kota Jakarta telah terjadi 'peperangan' dua kelompok preman asal Ambon yang bertikai dengan preman asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyebabkan seorang tewas dan beberapa mengalami luka-luka, akibat pukulan dan bacokan. Perkelahian antar gang preman ini ditengarai oleh perebutan lahan penjagaan sebuah lokasi keramaian di daerah Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat.

kerusuhan di Sampang, Madura
[lensaindonesia.com]
Sebelumnya, para pembaca surat kabar dan pemirsa televisi nasional juga menikmati liputan tentang terjadinya kebakaran pasca Idul Fitri di beberapa tempat di Jakarta, akibat dari korsleting listrik, faktor kelalaian manusia dalam suasana musim kemarau yang panjang.

Sementara, di luar Jawa, sebut saja pulau Madura, telah terjadi pertikaian diantara sesama umat Muslim, yang disebut-sebut berasal dari para pengikut Islam Sunni dengan pengikut islam Syiah, yang menyebabkan pembakaran beberapa rumah di sebuah desa di Sampang, sehingga sejumlah penduduk harus mengungsi untuk menghindari suasana genting. Pertikaian yang terjadi di dalam satu agama ini memang jarang terjadi, dan karena itu mengundang perhatian yang besar dari media massa.

Para pemirsa, khususnya penonton televisi anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga, pagi-pagi sekali sudah terpaku di depan layar kaca TV menikmati tayangan gosip selebriti, kemudian berlanjut dengan sajian musik yang merupakan bagian dari promosi industri rekaman musik, acapkali juga menampilkan 'goyangan maut' dan celotehan pembawa acara yang terkadang vulgar, tidak patut didengar anak-anak (guyonan berlesera redah jika mengarah pada penghinaan fisik). Kemudian muncul berita-berita kriminal, aksi unjuk rasa/demo massa yang seringkali disertai dengan tindakan anarkis!

Berbagai berita datang dan pergi, silih berganti tiada henti. Tidak saja dalam hitungan hari, tetapi bahkan dalam hitungan jam, menit dan detik. Tidak ada hari tanpa kerusuhan. Tidak ada hari tanpa berita korupsi atau sepak terjang dari institusi Komisi Pemberantasan Korupsi, yang belakangan ini tengah naik daun. Tidak ada hari tanpa ada kejahatan. Tidak ada hari tanpa gosip. Jika semua ini menjadi terlalu sering, akan semakin banyak pemirsa yang resisten kemudian cenderung menjadi muak. 

Kandidat calon gubernur DKI Jakarta.
Pemenangnya,
ditentukan pada Pemilukada
20 September 2012 [tribunnews.com]  
Sebentar lagi, ada hajat demokrasi yakni pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang akan berlangsung tanggal 20 September 2012, disertai masa kampanye seminggu sebelumnya,  selama 3 hari (14-16 September 2012), tetapi sesungguhnya telah terjadi kampanye terselubung di berbagai tempat keramaian yang dilakukan kubu pendukung masing-masing kandidat: JOKOWI dan FAUZI BOWO. 

Kampanye terselubung berlangsung tidak saja di ruang terbuka, gedung pertemuan umum, di pasar-pasar tradisional dan  bahkan juga di mesjid-mesjid. 

Walhasil, kampanye resmi yang cuma tiga hari (14-16 Sepetember 2012) hanya tinggal memunculkan ribuan spanduk, selebaran (flyer), penyebaran stiker, pemasangan baliho dan serangkaian pidato-pidato. Bahkan, di tengah hangatnya suasana menjelang pemilihan orang nomor satu Jakarta ini, terbetik aksi pembakaran Pos Polisi, terorisme di Solo di mana Jokowi menjabat sebagai walikota. Pada saat yang sama juga muncul pengaduan sebuah LSM yang baru berdiri sebulan yang lalu, melaporkan terjadinya tindakan korupsi oleh Jokowi ke KPK di Jakarta. Karena peristiwa ini  muncul pada saat pra-kampanye, tentunya menimbulkan dugaan adanya black campaign yang terselubung, jika kita berpikir dengan teori konspirasi menjelang pemilihan gubernur. Berbagai cara, metode, adu taktik dan strategi, kini terjadi di Jakarta untuk memenangkan salah satu pasangan kandidat. 

logo sejumlah stasiun TV
[myakise.blogspot.com] 
Apakah semua tayangan media massa ini mencerminkan apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat? Sama sekali tidak! Sebab pilihan fokus media, ditentukan oleh para manajer di ruang redaksi. Merekalah yang sesungguhnya paling bertanggungjawab terhadap apa yang menjadi bahan pembicaraan (agenda setting) masyarakat awam. 

Para pengelola media inilah, yang mengendalikan suatu produk tayangan di bawah bayang-bayang kendali rating iklan,  yang  (terpaksa muncul dengan) mencekoki persepsi pemirsa dengan beragam produk komersial. 

Mereka juga yang menentukan pilihan  fokus (angle) tertentu yang kemudian disajikan melalui gambar dan tulisan tercetak dan/atau menjejali penglihatan dan pendengaran penonton televisi di ruang-ruang terbuka umum hingga ke rumah-rumah bahkan memasuki ruang paling intim di setiap keluarga Indonesia. 
kegiatan di sebuah
ruang kendali TV

Lantas apa yang terjadi? Audiens umumnya mendapatkan persepsi sempit akibat dari pencitraan berlebihan yang menimbulkan generalisasi yang keliru! 

Apakah mungkin sebuah lensa kamera yang kecil bisa merepresentasikan penglihatan suasana sebuah desa, kota, propinsi atau bahkan sebuah negara? Apakah cukup kasus penembakan di kawasan pertambangan PT. Freeport, misalnya, mewakili suasana di Papua? Apakah Pemilukada Jakarta merepresentasikan Indonesia? Juga tidak. Masih banyak kota-kota besar lain yang memiliki pelaksanaan demokrasi yang lebih baik.  

Saya teringat Prof. Herbert Feith, seorang pakar ilmu politik, yang pernah mengungkapkan bahwa Pemilu terbaik yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu Pemilu 1955. Terbaik, dalam pengertian Pemilu yang benar-benar diselenggarakan secara umum, langsung bebas dan rahasia dengan menjunjung tinggi asas Jurdil (jujur dan adil). Tetapi, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada masa itu para petugas/panitia pelaksana Pemilu kebanyakan masih buta huruf! Inilah sebuah idealisme orang-orang sederhana yang ingin melihat Indonesia lebih baik. Coba bandingkan dengan Panitia Pemilu/Pemilukada sekarang, kebanyakan mereka adalah orang-orang dengan seabrek titel dan gelar yang mentereng, tetapi ternyata seringkali kesulitan dalam menyelenggarakan Pemilu yang langsung, bebas, rahasia dan jujur serta adil. 

Peristiwa kebakaran di sebuah lorong di Jakarta atau perkelahian massal antar kelompok preman di daerah Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat, atau berbagai peristiwa kejahatan politik dan kriminal sadis yang banyak diekspose, tidaklah mencerminkan keadaan di Jakarta. Tetapi, mereka yang membaca dan menyaksikan dari jauh (bahkan di seberang laut di berbagai negara) melalui layar kaca, seakan-akan mendapatkan gambaran suasana sebuah kota yang mengkhawatirkan! Dan gambaran itu kemudian menjadi sebuah persepsi yang melekat di dalam benak, karena terdengar dan terlihat terus menerus! 

Miskinnya kreativitas para produsen siaran TV disertai keterbatasan daya jelajah kamera, akan mempersempit persepsi (penglihatan, pandangan, anggapan, pendapat bahkan penerimaan pengetahuan), pemirsa yang sempit pula! Siapa yang dimaksud pemirsa ini? Dan seluas apa sebenarnya layanan media tanah air?

sepotong gambar aksi kerusuhan
mei 1998 di Jakarta
Luas layanan media, yakni sebanyak jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 235 juta, tersebar di lebih dari 17.000 pulau dengan ratusan suku bangsa dan dialek, yang menetap mulai dari Sabang di ujung paling barat pulau Sumatera Utara hingga berserakan ribuan kilometer sampai Merauke, wilayah paling timur pulau Papua! 

Dari jumlah itu, lebih dari 90% para pemirsa TV itu, terpaku di depan pesawat TV paling sedikit 2-3 jam/hari. Bahkan sebuah penelitian menunjukkan data, bahwa tingkat konsumsi siaran TV di rumah tangga Indonesia bisa mencapai 4-5 jam sehari. Apakah kenyataan ini disadari para pengelola media? 

Sebuah hipotesis menyebutkan bahwa; semakin tinggi (lama) pemirsa menonton televisi, akan semakin rendah tingkat produktivitas mereka! Paling tidak, para pemirsa yang diteliti di beberapa pedesaan dan perkampungan, kini menjadi terbiasa bangun lebih siang untuk pergi ke sawah atau ladang, karena semalam terlalu asyik menonton TV. Akibatnya, menurunkan tingkat produktivitas mereka.

Memang para pemirsa ini (pada umumnya) menikmati saluran TV gratis. Maka, mau atau tidak mau, suka atau tidak, mereka terpaksa harus "berlari-lari" dari satu saluran ke saluran lainnya (jika tidak suka atau terganggu dengan siaran iklan di tengah acara yang mereka sukai) atau menelan dengan sabar apa saja tayangan iklan yang hadir memberondong! 

Saya sangat prihatin dengan 'keseragaman'  fokus pemberitaan media kita. Begitu banyak stasiun televisi nasional, namun begitu miskin varian berita dan tayangan berkualitas yang muncul. Sebentar sebentar, terjadi kerusuhan. Sebentar sebentar terjadi unjuk rasa atau demo disertai dengan aksi anarkis. Lalu dilanjutkan dengan beragam talk show terkait dengan sesuatu pemberitaan. Ini memang bagus, persoalannya, liputan yang sama, juga diikuti secara serempak oleh media televisi lainnya di saluran/kanal yang berbeda, meskipun dengan host dan gaya yang berbeda.. 

Orangutan menutup wajahnya 
dalam keadaan
luka bakar parah, setelah dipaksa
turun dengan cara membakar
pohon kelapa tempat
dia berlindung [vivanews]
Dalam seminggu terakhir ini, ada sebuah tayangan berita yang sangat mengusik 'kesadaran' nurani kita sebagai manusia, yakni ketika menyaksikan sejumlah orang yang berusaha mengevakuasi (baca: mengusir) seekor Orangutan yang masuk ke kawasan pemukiman penduduk di sebuah desa di pulau Kalimantan. 

Saking sulitnya menghalau sang Orangutan untuk kembali ke habitatnya, kemudian entah siapa yang berinisiatif, muncul ide untuk membakar pohon kelapa tempat seekor Orangutan itu bertahan di pucuk daunnya!  Sejumlah penduduk yang juga disertai petugas dari Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA), sejumlah aktivis LSM, hanya bisa menyaksikan peristiwa tersebut! Ini jelas sebuah tindakan konyol (baca: bodoh) yang membuat pemirsa terusik nuraninya, bahkan membuat sebagian dari mereka marah! Mengapa?

Pemandangan tragis terjadi, karena si Orangutan tidak bisa meloncat atau lari ke tempat lain. Ia tetap bertahan di pucuk pohon kelapa sambil berusaha berpegangan tangannya agar tidak jatuh dalam keadaan terbakar, hingga sekujur bulunya yang tebal menjadi hangus kemudian tampak sebagian besar kulit badannya memerah  terkelupas akibat jilatan api yang menyelimuti sekujur tubuhnya! Orangutan itu lalu terjungkal ke tanah, berguling-guling dalam keadaan luka parah.

Mengapa mengusir seekor Orangutan yang masuk ke kawasan pemukiman harus dengan menyodok dan menyogok dengan bambu runcing bahkan membakar pohon tempat dia bersembunyi? Mengapa tidak mengajaknya bicara atau membujuknya dengan buah pisang atau mendatangkan betina Orangutan atau apa saja makanan yang disukainya? Paling banter, alternatif lainnya adalah menggunakan tembakan bius atau jala atau kerangkeng jebakan! Mengapa harus dengan cara kejam seperti itu?

Tidakkah Anda sadari bahwa perilaku binatang ini persis sama dengan perilaku kita, ketika kita terancam bahaya?! Begitu juga ketika dia marah  atau meringis karena kesakitan. Orangutan memiliki kapasitas otak yang hanya berbeda sedikit saja volumenya dari manusia. Jika kita perhatikan secara seksama, kita akan menemukan diri kita di dalam perilaku spesies langka yang hanya ada di Indonesia ini. Perilaku Orangutan dalam banyak hal, memiliki kesamaan dengan perilaku kita. 

Tayangan selanjutnya menyebutkan, peristiwa ini terjadi akibat semakin sempitnya habitat Orangutan karena perluasan kebun kelapa sawit. Habitat binatang semakin sempit akibat industrialisasi di sektor perkebunan, khususnya sawit. Benarkah demikian? Padahal, produksi sawit kita masih kalah dengan Malaysia yang luas lahannya cuma sejengkal saja dibandingkan dengan belantara Sumatera dan Borneo! Reporter tidak boleh membuat kesimpulan apriori tanpa data. Belum tentu pandangan sepihak para aktivis LSM itu benar, sayangnya  reporter yang malas, hanya menelan apa saja fooding yang mereka terima. Dan ini, dalam banyak hal, lolos dari suntingan para editor di ruang redaksi.

pertikaian antar geng preman
di cengkareng, jakarta
Kita beralih ke berita sebelumnya, tentang pertikaian antar kelompok di Jakarta Barat. Apakah benar pula, situasi dan kondisi sedemikian mencekam di daerah Kamal, Cengkareng Jakarta Barat akibat dari terjadinya perkelahian antar kelompok preman? Hingga beredar luas info di kalangan pengguna telepon pintar (smart phone) Blackberry melalui  blackberry messengger (bbm) agar masyarakat berhati-hati karena di jalanan banyak berseliweran lemparan batu, kelewang, parang dan senjata tajam bahkan pistol yang bisa saja salah sasaran, sehingga masyarakat dianjurkan tidak melintas atau melewati  daerah itu. 

Seorang kawan yang kebetulan tinggal di dekat dengan lokasi kejadian (TKP), mengaku biasa saja. Ia bahkan tertidur dengan pulas ketika peristiwa bentrokan itu terjadi. Susana di pasar-pasar juga tidak terganggu, transaksi berjalan dengan normal.

Nah, lagi-lagi media massa telah dengan sengaja menciptakan sebuah fokus perhatian, yang belum tentu mencerminkan keadaan keseluruhan. Mereka hanya 'memotret' sepenggal peristiwa dengan melepaskan konteksnya, yakni lingkungan sekitar. Maka, sebuah peristiwa kecil di suatu daerah, tampak menjadi besar beberapa puluh kali lipat hanya karena pikiran kita dirangsang oleh penglihatan dari sepenggal potongan gambar sebuah lensa kamera. 

Ahaa, inilah dia realitas media yang menipu saya, Anda dan kita semua. Tanpa disadari, kita mengikuti sudut pandang pengelola media sebagai bahan pembicaraan kita sehari-hari. Entah pada pertemuan warga di lingkungan terkecil Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), hingga  ke level publik yang lebih luas. 

aksi pendudukan gedung
MPR-DPR RI, Mei 1998
Pernahkah Anda menyaksikan sebuah tayangan kerusuhan massal di Jakarta tahun 1998, menjelang pengunduran diri mantan Presiden Soeharto sebagai Presiden? Benarkah Presiden jatuh dari tampuk kekuasaan akibat dari tuntutan massa atau demo besar di jalan-jalan di ibukota yang kemudian disusul aksi serupa di beberapa kota besar lain di Indonesia?

Sejarah seharusnya mencatat apa yang terjadi sebenarnya: apakah sang diktator yang telah memerintah Indonesia lebih dari 35 tahun ini benar-benar jatuh oleh kekuatan memaksa dari rakyat (people power)? Ataukah ia dijatuhkan pihak lain? Ataukah ia justru mengundurkan diri, yakni dengan 'besar hati' menyerahkan kekuasan kepada wakilnya ketika itu (BJ. Habibie)? 

Bukankah jika sang presiden tidak berbesar hati mengundurkan diri, maka yang seharusnya terjadi adalah hadirnya kekuatan militer untuk memberangus dan memusnahkan riak-riak kecil di jalan raya, dengan tank baja? Sebab ketika itu, Pak Harto masih menggenggam kekuasaan yang kuat sebagai Panglima Perang, penguasa tertinggi atas seluruh angkatan perang: darat, laut dan udara? Apalagi jika hanya menghadapi atau sekadar menghentikan unjuk rasa yang (dalam pandangan militer, tidak lebih dari sekadar riak riak kecil di jalan raya).  

Benar. Di tangan Soeharto ketika itu, masih ada kekuatan militer yang besar! Tetapi, fakta yang terjadi adalah, presiden Soeharto memilih untuk memanggil nyamuk-nyamuk pers (para wartawan) di Istana negara karena ia akan membacakan surat pengunduran dirinya sebagai presiden Republik Indonesia! 

Jika demikian, ia sama sekali bukan jatuh atau dijatuhkan oleh aksi massa! tetapi masyarakat terlanjur mendapatkan persepsi seperti apa yang disajikan oleh media massa, bahwa kekuatan rakyat telah menjatuhkan kekuasaan presiden Suharto dari tampuk kekuasaan tertinggi di republik ini, setelah selama lebih dari 35 tahun berkuasa. Sementara yang terjadi, Presiden Soeharto mengundurkan diri. Bukan dicabut mandatnya oleh lembaga tertinggi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) atas desakan rakyat! Jelas, Soeharto mengundurkan diri atas kehendak bebas dan pilihannya sendiri. Terlepas dari apapun alasannya di balik itu! Inilah kekeliruan fatal yang telah disajikan kepada publik pemirsa TV, pendengar radio dan pembaca suratkabar di Indonesia. 

sebuah gubuk di desa terpencil
menikmati siaran TV
[nationalgeographic.co.id]
Pemimpin paling kuat yang berkuasa paling lama di Indonesia (bahkan mencapai rekor dunia, karena hanya bisa disaingi oleh Fidel Castro, presiden Cuba) ini, telah lama meninggal dunia. Era Orde Baru berganti dengan era reformasi. Tetapi, mesin politik Soeharto dengan golongan Karya (Golkar) sebagai kendaraan dan gerbongnya, tidak mati. Bahkan hingga kini semakin  kuat, karena akar dan infrastrukturnya sudah tertanam jauh di berbagai daerah. 

Pada ranah media nasional, pasca lengsernya Soehato memang muncul suasana kebebasan yang cenderung berlebihan (euforia). Muncul beragam stasiun televisi baru. Berbagai penerbitan media cetak bahkan tidak perlu lagi meminta ijin terbit. Siapa yang bisa laku di pasar, itulah yang bisa bertahan. Para pengelola media saling berkejaran memburu apa saja yang bisa menjadi berita dan tayangan yang pada masa lalu dianggap tabu, yang sekarang tidak lagi. 

Kini para pemirsa acapkali menyaksikan aksi demo atau unjuk rasa, hanya karena seorang Lurah Desa kawin lagi atau terlambat membagikan bantuan bagi rakyat miskin. Akibatnya, kantor desa dilempari batu. Tidak cukup disitu, kemudian dibakar habis! Maka, seluruh warga di kampung itu menderita kerugian, karena terhentinya pelayanan publik. Kecenderungan main hakim sendiri dan anarkisme semacam ini, semakin sering terjadi!

Masyarakat kini semakin kritis, mereka semakin cerdas dalam menonton televisi. Fanatisme terhadap kebebasan tidak dilarang, tetapi Anda tidak harus menjadi buta. Berikut sekadar contoh: Begitu banyak harapan rakyat tertumpah terhadap lembaga baru yang selama ini diharapkan, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tetapi sudahkah kita memahami bagaimana kinerja mereka? 

Ternyata kinerja KPK masih memprihatinkan. Bayangkan, untuk menyelamatkan uang negara sebesar Rp 1 Milyar (akibat perbuatan Korupsi), diperlukan biaya sebesar Rp 3 Milyar? Diantaranya karena para penyidik KPK harus digaji besar supaya tidak tergoda oleh para pesakitan yang diperiksanya. Mengapa sebuah kasus besar di Kepolisian harus tergantung kepada seorang penyidik (yang notabene berasal dari Kepolisian juga)? Mengapa KPK tidak merekrut sendiri petugas penyidik terlatih dan profesional dari kalangan sendiri, sehingga tidak tergantung lagi kepada pihak Kepolisian?  Dan anehnya, soal Ini tidak banyak yang mempersoalkan, karena masyarakat hanya berhenti di tingkat wacana saja: bahwa ada koruptor yang ditangkap kemudian diadili dan dijebloskan ke penjara. Tetapi esensi penting lain tidak diperoleh, yakni berapa keuntungan yang bisa diperoleh dari hasil penyitaan dana yang dikorupsi setelah dipotong biaya untuk mengusut, menyidik dan menyidangkannya? Ternyata, masih besar pasak daripada tiang! Sudah saatnya, rakyat bisa menikmati pendidikan yang murah, fasilitas layanan rumah sakit yang mudah, yang berasal dari alokasi dana yang diperoleh dari kinerja KPK. Uniknya, di dalam era euforia kebebasan ini, publik merasa sudah cukup terhibur dengan tayangan media yang hanya mengupas di permukaan itu! 

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat saya, terhadap rekan seperjuangan yang kini menjadi pejabat tinggi di KPK: kawan, mulailah Anda bekerja sungguh-sungguh memenuhi harapan rakyat! Tidak usah terlalu banyak pernyataan yang diberikan hanya sekadar untuk 'menyenangkan' publik dengan press statement yang tidak perlu! Akan jauh lebih baik, Anda  fokus saja untuk bekerja dengan skala prioritas tertinggi dengan tetap menjunjung tinggi asas-asas hukum secara profesional, tanpa tergoda untuk memanfaatkan popularitas dan fanatisme buta masyarakat awam yang memang membenci korupsi di negeri. Sebab jika esensi perbuatan korupsi (yang menyengsarakan rakyat itu) tidak berhasil direbut dan dikembalikan (baik secara perdata maupun pidana), maka popularitas dan fanatisme publik itulah yang kemudian bisa berbalik menghancurkan Anda. Saya berharap media massa di Indonesia, juga tetap bersikap fair dan kritis, sebab hanya itu pula yang bisa membuat media dihormati sekaligus disegani!     

Pada beberapa sudut-sudut kecil sebuah rumah yang tersebar di beberapa daerah, kini semakin tumbuh kalangan pemirsa TV yang menyukai tayangan-tayangan yang mendidik, tayangan yang merangsang imajinasi dan kreativitas, menumbuhkan empati dan human interest pemirsanya. Mereka sudah mabuk dengan berita politik yang hanya membuat mereka bodoh, kemudian mereka memilih tayangan dan liputan yang ringan dan menghibur (soft news). Mereka juga tak segan memberikan apresiasi terhadap gagasan-gagasan kreatif dari media, seperti tayangan yang mengungkap tentang profil orang-orang biasa yang bertindak luar biasa, atau mereka-mereka yang berhasil mengubah keadaan sulit menjadi mudah, tayangan yang membangkitkan semangat hidup, pengembangan diri, tayangan yang mengundang inspirasi lahirnya peluang dan wirausaha baru. 

panorama pantai
Bahkan juga, tayangan berupa laporan, peliputan, investigasi terhadap hal-hal yang selama ini jarang disentuh: seperti tentang lingkungan dan mahluk-mahluk hidup (flora dan fauna) di sekitar kita.  

Bagaimana keajaiban sebuah spesies bisa bertahan hidup, bagaimana jasad renik membantu menjaga kesehatan manusia, bagaimana perjuangan binatang tertentu beradaptasi dengan lingkungan, mempertahankan kelompoknya dari predator, bagaimana cara mereka berinteraksi dan berkomunikasi hingga berkembang biak dengan subur, sehingga pada gilirannya memberikan kontribusi yang terbaik bagi manusia untuk hidup, tumbuh dan berkembang! 

Mengapa tayangan semacam ini menjadi penting? Sebab karakter budaya Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang cinta damai, ramah, santun dan umumnya memiliki tipikal pribadi yang murah senyum. Maka sudah sepantasnya mereka hidup makmur sejahtera karena   mereka berada (tinggal dan hidup) di lingkungan yang memiliki daya dukung sumber daya alam yang sangat luar biasa! 

Tidak ada komentar: